Tentang Pemilik Kedai Kopi #2

(Masih tentang pemilik kedai kopi dan tuan atas rindunya)


Semburat senja kembali menyapaku yang masih setia memandangmu dari jauh. Memperhatikan setiap teguk kopi yang kau pesan dari kedai sederhana milikku. Aku jatuh cinta pada engkau yang sepertinya mencintai kopi hitam buatanku sejak awal. Rasanya aku begitu bahagia melihatmu duduk tenang disudut sana, melepas penat sendirian yang dengan gagah menghantar senja hingga ketepian.

Ini kesekian kalinya kau datang kesini. Dengan pesanan yang selalu sama setiap waktunya. Kopi hitam. Pernah suatu waktu kulihat sorot matamu bercerita padaku. Katamu melaluinya, kopiku memang sederhana, tapi berbeda dari yang lainnya.  Aku tak paham betul apa maksud dari sorot mata itu. Apa yang membuatmu sejatuh cinta itu pada secangkir kopi hitam dikedaiku ini.  Sudahlah.. aku tak peduli dengan apa yang menjadi alasanmu sebenarnya. Sebab akupun tak punyai jawaban atas pertanyaan mengapa aku se-setia ini menunggu hadirmu; seseorang yang baru saja aku kenal, disetiap harinya.

Kali ini ada yang berbeda dari soremu sebelumnya. Lelaki yang sedang ku rindukan diam-diam itu sepertinya tengah berbunga. Biasanya kau memesan kopi hitam dengan tatap nanar yang tak sembarang orang bisa menangkap. Namun kali ini, kau memesannya dengan mata bahagia. Aku baru tahu ternyata selain kopi dikedaiku, seseorang diujung teleponmu lebih mampu membuat dirimu sebahagia itu. 
Aku bertanya pada diriku sendiri tentang siapa orang diujung sana yang membuatmu nampak sebahagia itu. Dari suara yang terdengar samar, sepertinya pencipta bahagiamu itu seorang gadis seusiaku, atau mungkin usianya sedikit lebih matang dariku. Sorot mata bahagiamu tak dapat membohongiku. Kau jelas bahagia dengannya. Dan sore ini bukan lagi kopiku yang membuatmu bahagia. Tuan, bukan aku tak suka melihatmu bahagia. Aku hanya sedang cemburu dengan dia yang mampu menggantikan peran kopiku disoremu ini.

Andai kau tahu, diam-diam pemilik kedai itu kembali memperhatikanmu. Sore ini ia hanya berteman dengan tabah sebab kenyataan benar-benar memaksanya untuk menghantar senja sendirian. Tanpamu. Tanpa seseorang yang sebelumnya setia menemani menyambut malam. Biarkan saja kopi hitammu yang perlahan mendingin kembali berteman dengan pemilik asalnya. Karena ternyata seseorang diujung sanalah yang kau cari. Bukan kopi ini. 




Semarang, 26 Mei 2018

Komentar

Postingan Populer